Langsung ke konten utama

Larik Kaum Hawa


Untuk  hawa,
 
Sekali lagi mata meng-eling.
Tertancap di keraguan yang kosong.
Kala semua angin menderu menyentuh bising.
Terabai sudah hari dengan waktu yang melorong.
 
Lama kiranya aku duduk.
Terpaku di kursi plastik.
Beragam kata, tak jadi kupilih.
Hanya untuk membuat surat cinta.
 
Lalu bagaimana suara sampai,
sementara angin enggan merambat.
Iklan-iklan mengucap makar.
Berita korupsi cuma sarapan alot
saat pagi yang melarat.
 
Ini jadi seperti parodi yang berkeliaran dengan liar.
Memainkan skenario butut kemunafikan.
Tapi tiada salah pada panggung ini.
Kita semua berpasangan!
Menjadi ketetapan yang tak bisa di bantah.
Sudah kesepakatannya alam dengan tuhan.
 
Apalagi yang bisa ku beri.
Bukan surat cinta yang ku pesan.
Bukan potret kemiskinan yang melanda negri.
Atau penutup hijab untuk kecantikan.
 
Aku hanya titip moral bangsa ini.
Pada wanita-wanita yang membesarkan.
Kerana sekarang kita kembali gelap.
Semakin hitam dengan semrawutnya sistim.
Tiang fondasi kita rapuh.
Anak-anak melupakan sejarah tumpah darah.
Hukum menjadi makanan lezat elite politik.
Sementara buruh-buruh semakin ditekan tenggorokannya.
Lambung mereka melilit kering.
Pori-pori mereka terperas.
Menunggu senja yang lapar malam.
Mereka tetap jengah oleh jeritan anaknya meminta makan.
 
Bisik ku semakin kencang.
Wajah ketidakpastian terpilu dengan hidup.
  Tapi, simbol kegelisahan selalu ada.
Untuk segala keberanian.
 
Kepada hawa.
Ketika adam berubah menjadi setan.
Jagalah ibu pertiwi ini.
Agar wajahnya tak lagi muram.
Melihat anaknya tumbuh kembang.
Menggantikan manusia tua yang serakah.
Potret feodal yang berkepanjangan.
 
Hawa, bukan main aku berharap.
 
 
bekasi, 21 april 2012

Postingan populer dari blog ini

Ayat Tuhan

Kepada hari yang diguratkan malam. Kepada sepi yang berantah-antah datang. Bertamulah seseorang untuk meminta hajatnya yang bersemarak duka. Aku katakan dengan pelan sambil membawa air untuk mengisi kekosongannya. Janganlah bersedih. Janganlah berkecil diri. Kesendirian yang berlarut buih adalah sepi pembunuh jiwa.  Lalu menenggelamkan dalam ketakberdayaan  hingga enggan melakukan sesuatu walau sebatas apa.  Ia (sepi) membutakan mata kita pada harapan sekecil debu.  Ia membuat kita lupa kalau ada ketabahan, seperti tabahnya hujan di bulan juni. Maka jangan bersedih,  berkecil hati. Katakanlah dengan lemah lembut,  semoga aku tidak termasuk orang yang berputus asa  dan menjadi orang yang zalim atas diriku sendiri.  Lalu berikanlah kekuatan saat menjalani segala sesuatu dengan baik  untuk tidak menjadi sombong, dan tidak menjadi lemah dari musuh-musuh Mu. Sungguh, ini bukanlah sajakku melainkan pe...

Tukang Roti

Waktu cilik, selang klaksonmu menghela pagi. Seperti pengingat akan datang sebuah hari. Ibu-ibu yang telah bersolek keluar dengan cepat. Membeli roti gandum isi coklat hitam atau keju kuning. Untuk sarapan anak-anaknya setelah pulas di sarang. Begitu nikmat buatan tanganmu. Itu dulu. Sekarang makin pahit saja olahanmu. Aku berfikir. Mungkin kau butuh sarapan untuk anak-anak. Yang pulang kemarin senja. Sedang bahan-bahan biang rotimu hilang. Atau mungkin saja bos mu makin korup. Tak peduli rasa yang penting laku Dan kau kahirnya kejar setoran Seperti esok tak ada harapan. Dan  orang-orang telah lupa hakikat rasa. Lambat laun, sapa menyapa. Ekonomi merana dan buta. Roti gerobak cuma kisah yang menghamba pada sejarah. Seperti becak atau kereta kuda.