Langsung ke konten utama

KEPADA KESEDIHAN - M. Aan Mansyur

Pada siang hari, aku tidak bisa melihat kesedihan. Tapi,
pada malam hari, aku merasa kesedihan selalu mampu
menampakkan diri dan membelai kepalaku—membiarkan
aku tidur di pangkuannya sebagai anak kecil.

Televisi telah mengubah pikiranku.
Memejamkan mata berarti menjadi pencuri. Tidak
ada yang indah dalam hal-hal mudah. Dua mataku
akan berusaha selalu terjaga. Aku memilih hidup
sebagai penjahat yang ceroboh—cuma tahu melukai
hidup sendiri.

Pada pagi hari, aku tahu ada seorang mengusir mimpi
buruk dari matamu dengan ciuman. Kau terbit
sebagai warna paling cerah di taman.

“Jika kau ingin mengucapkan selamat tinggal,
lakukan seperti matahari tenggelam,” kataku
kepada diri sendiri.

Sampai ketemu besok pagi.
Lagi.

Postingan populer dari blog ini

Ayat Tuhan

Kepada hari yang diguratkan malam. Kepada sepi yang berantah-antah datang. Bertamulah seseorang untuk meminta hajatnya yang bersemarak duka. Aku katakan dengan pelan sambil membawa air untuk mengisi kekosongannya. Janganlah bersedih. Janganlah berkecil diri. Kesendirian yang berlarut buih adalah sepi pembunuh jiwa.  Lalu menenggelamkan dalam ketakberdayaan  hingga enggan melakukan sesuatu walau sebatas apa.  Ia (sepi) membutakan mata kita pada harapan sekecil debu.  Ia membuat kita lupa kalau ada ketabahan, seperti tabahnya hujan di bulan juni. Maka jangan bersedih,  berkecil hati. Katakanlah dengan lemah lembut,  semoga aku tidak termasuk orang yang berputus asa  dan menjadi orang yang zalim atas diriku sendiri.  Lalu berikanlah kekuatan saat menjalani segala sesuatu dengan baik  untuk tidak menjadi sombong, dan tidak menjadi lemah dari musuh-musuh Mu. Sungguh, ini bukanlah sajakku melainkan pe...

Tukang Roti

Waktu cilik, selang klaksonmu menghela pagi. Seperti pengingat akan datang sebuah hari. Ibu-ibu yang telah bersolek keluar dengan cepat. Membeli roti gandum isi coklat hitam atau keju kuning. Untuk sarapan anak-anaknya setelah pulas di sarang. Begitu nikmat buatan tanganmu. Itu dulu. Sekarang makin pahit saja olahanmu. Aku berfikir. Mungkin kau butuh sarapan untuk anak-anak. Yang pulang kemarin senja. Sedang bahan-bahan biang rotimu hilang. Atau mungkin saja bos mu makin korup. Tak peduli rasa yang penting laku Dan kau kahirnya kejar setoran Seperti esok tak ada harapan. Dan  orang-orang telah lupa hakikat rasa. Lambat laun, sapa menyapa. Ekonomi merana dan buta. Roti gerobak cuma kisah yang menghamba pada sejarah. Seperti becak atau kereta kuda.